MUI Kudus Gelar Halal Bihalal dan Halaqoh, Analisis Dampak Krisis Perang Timur Tengah secara Komprehensif

KUDUS – Suasana kekeluargaan dan semangat keilmuan menyelimuti Aula Mubarokfood Cipta Delicia pada Sabtu, 11 April 2026, ketika Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Kudus menyelenggarakan kegiatan Halal Bihalal sekaligus Halaqoh dengan tema “Analisis Dampak Krisis Perang di Timur Tengah”. Acara ini dihadiri oleh seluruh pengurus MUI Kabupaten Kudus serta pengurus MUI dari berbagai kecamatan se-Kabupaten Kudus, serta beberapa tamu undangan yang hadir, menciptakan forum yang hangat namun sarat dengan kajian strategis.

Kegiatan diawali dengan jamuan makan siang bersama, yang menjadi momen silaturahim dan saling bermaafan di bulan Syawal. Setelah itu, acara resmi dibuka dengan sambutan dari Ketua Umum MUI Kabupaten Kudus, KH. Ahmad Hamdani Hasanuddin, Lc., MA. Dalam sambutannya, Kyai Hamdani menyampaikan selamat Hari Raya Idul Fitri kepada seluruh jajaran pengurus MUI dan tamu undangan. Beliau juga menguraikan hikmah di balik hari raya Idul Fitri, yakni kembalinya manusia kepada fitrah kesucian setelah sebulan berpuasa. Selain itu, Kyai Hamdani menyampaikan pesan dari Bupati Kudus yang berhalangan hadir, Dr. Ars. Sam’ani Intakoris, S.T., M.T., terkait pentingnya kebersihan lingkungan di Kabupaten Kudus yang menjadi salah satu program prioritas. Terakhir, beliau memberikan pengantar tentang topik halaqoh yang akan dibahas, mengingat konflik Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Israel, memiliki dampak global yang tidak bisa diabaikan.

Acara inti halaqoh dipandu dan dimoderatori oleh Prof. Dr. H. Kisbiyanto, S.Ag., M.Pd., yang juga menjabat sebagai Ketua MUI Kabupaten Kudus dan Wakil Rektor 3 UIN Sunan Kudus. Dengan gaya yang lugas dan cerdas, moderator mampu menghubungkan materi dari dua narasumber utama secara berkesinambungan, sehingga peserta dapat mengikuti alur diskusi dengan mudah. Beliau juga merangkai antara pemaparan Prof. Abdurrohman Kasdi yang lebih bersifat geopolitik dan historis dengan penjelasan Prof. Achmad Hilal Majdi yang menekankan pada motivasi perang serta dampak sosial-budaya. Moderator dengan sigap merangkum poin-poin kunci dari setiap narasumber.

Narasumber pertama, Prof. Dr. H. Abdurrohman Kasdi, Lc., M.Si., yang merupakan Ketua Dewan Pertimbangan MUI Kabupaten Kudus sekaligus Rektor UIN Sunan Kudus, memaparkan gambaran sejarah awal mula konflik serta penjelasan geografis mengenai perang antara Iran dan Israel. Beliau menguraikan berbagai teori yang digunakan untuk menjelaskan konflik peperangan, termasuk perbandingan anggaran pertahanan kedua negara untuk periode 2025 yang menunjukkan kesenjangan signifikan. Prof. Abdurrohman juga menyajikan garis waktu dan pemicu konflik krisis Timur Tengah secara rinci, mulai dari penguatan blok militer dan ideologis, pergeseran diplomasi Arab, keterlibatan kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan Rusia, hingga timbal balik di sektor ekonomi dan energi. Salah satu poin yang ditekankan adalah krisis energi di Selat Hormuz yang dijuluki “urat nadi” energi dunia. Jika jalur ini tersumbat, dampaknya akan sangat luar biasa, terutama terhadap sektor pangan dan rantai pasok global akibat efek domino dari lonjakan harga energi. Menghadapi eskalasi ini, Prof. Abdurrohman menawarkan sejumlah respons yang harus dilakukan Indonesia, antara lain menjaga sikap prinsip “bebas-aktif” dan diplomasi damai, menegaskan penolakan atas pelanggaran hukum internasional, serta melakukan mitigasi risiko ekonomi domestik. Beliau juga menginformasikan bahwa Amerika Serikat telah menerima 10 poin kesepakatan damai dari Iran, meskipun implementasinya masih penuh tantangan.

Narasumber kedua, Prof. Dr. H. Achmad Hilal Majdi, M.Pd., yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan MUI Kabupaten Kudus dan Wakil Rektor 1 Universitas Muria Kudus, memberikan perspektif berbeda dengan menyoroti motivasi di balik perang atau konflik. Beliau membandingkan dinamika perang di Tanah Jawa dan Timur Tengah, serta menegaskan bahwa kerugian perang yang ditanggung Iran jauh lebih besar dibandingkan dengan Israel. Prof. Hilal membahas tentang jargon “Gold, Glory, Gospel” yang mungkin bisa menjadi salah satu motivasi bentuk modern dari semangat Perang Salib yang dihubungkan dengan konflik saat ini. Beliau juga menjelaskan sejarah bahwa penduduk asli Amerika (indigenous and native American) dulunya sudah ada yang beragama Islam sebelum kedatangan penjajah. Di akhir pemaparannya, beliau merinci berbagai dampak perang Timur Tengah yang meluas, mulai dari krisis pengungsi, radikalisasi, hingga ketidakstabilan ekonomi global yang berimbas langsung ke Indonesia.

Sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung sangat dinamis. Beberapa peserta aktif mengajukan pertanyaan, di antaranya Prof. Muslim A. Kadir, MA, menyatakan bahwa kunci utama dalam sebuah konflik adalah militansi dan menurutnya rekomendasi yang bersifat normatif tidak perlu terlalu ditonjolkan. Kemudian, Dr. H. Shobirin, M.Ag., Dr. H. Nur Said, M.A., M.Ag., dan Bapak Eko Handoyo juga turut memberikan pandangan dan pertanyaan mendalam terkait posisi Indonesia serta langkah konkret yang harus diambil oleh MUI dalam menyikapi konflik tersebut. Para narasumber menjawab dengan bijak, mengedepankan pendekatan ilmiah dan keagamaan yang seimbang.

Acara yang juga dihadiri oleh sejumlah tamu undangan bergengsi seperti Ketua DPRD Kudus, Dandim 0722 Kudus, yang diwakili oleh beliau, Bapak Kasdim (Kepala Staf Kodim) Mayor Inf. Muhlisin, Kapolres Kudus yang sempat dihadiri oleh beliau Bapak Kapolres Kudus, AKBP Heru Dwi Purnomo, S.I.K., M.Si., Ketua PN Kudus, para pimpinan organisasi masyarakat Islam seperti PC NU, PD Muhammadiyah, Muslimat NU, Ansor, Fatayat, Aisyiah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiah, serta pimpinan DMI, BAZNAS, BWI, Ta’mir Masjid Agung Kudus, IPHI/JHK Kudus, dan para rektor dari UIN Sunan Kudus, UMKU, UMK, serta ITEKES Kudus. Kehadiran mereka menunjukkan besarnya perhatian lintas lembaga terhadap isu yang dibahas.

Halal bihalal dan halaqoh ini tidak hanya menjadi ajang silaturahim pasca Idul Fitri, tetapi juga forum strategis yang memberikan pemahaman komprehensif tentang krisis global, sekaligus merumuskan sikap dan langkah bagi umat Islam di Indonesia, khususnya di Kabupaten Kudus, dalam menghadapi dampak konflik yang terus bergulir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RSS
WhatsApp
Follow by Email